TARAKAN – Anggota Komisi IV DPRD Provinsi Kalimantan Utara, Dino Andrian, menyoroti belum tersedianya fasilitas dan tenaga spesialis untuk menangani pasien gagal ginjal anak di RSUD dr. H. Jusuf SK, rumah sakit rujukan terbesar di provinsi ini. Kondisi ini memaksa pasien anak harus dirujuk ke luar daerah di tengah tren peningkatan kasus gangguan ginjal pada usia dini yang diduga terkait pola konsumsi minuman instan.
Hal ini disampaikan Dino Andrian dalam Rapat Dengar Pendapat bersama manajemen rumah sakit. Ia mengaku terkejut setelah mengetahui fakta tersebut, bahkan pengalaman ini dialami langsung oleh anggota keluarganya sendiri.
“Saya dapatkan fakta bahwa saat ini banyak anak terserang penyakit ginjal, yang sebagian besar dikaitkan dengan kebiasaan minum minuman instan. Saya baru tahu RSUD ini belum bisa menangani kasus tersebut, sehingga harus dirujuk ke luar daerah. Kebetulan keluarga saya juga mengalaminya, jadi saya sangat kaget. Rumah sakit sekelas ini ternyata hanya melayani pasien dewasa,” ujar politisi fraksi Hanura itu.
Merespons hal tersebut, Kepala Bidang Pelayanan Medik RSUD dr. H. Jusuf SK, dr. Ronaldo Jan Palenteng, Sp.AN, membenarkan keterbatasan tersebut. Menurutnya, kendala utama bukan pada peralatan, melainkan belum adanya dokter spesialis konsultan ginjal anak. Sesuai Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran dan aturan BPJS Kesehatan, penanganan medis harus dilakukan oleh tenaga yang memiliki kompetensi linier.
“Kami dilema di masalah kompetensi dan aturan profesi. Meski ada dokter anak dan dokter ginjal dewasa, secara aturan tidak boleh menangani kasus ginjal anak secara definitif. Untuk kondisi gawat darurat kami tetap melakukan penyelamatan nyawa, namun setelah stabil wajib dirujuk keluar Kaltara,” jelas dr. Ronaldo.
Pihak rumah sakit berencana mengarahkan dokter anak yang ada untuk mengambil pendidikan subspesialisasi ginjal anak, namun terkendala biaya yang besar mengingat lokasi di pulau. Oleh karena itu, dr. Ronaldo sangat mengharapkan dukungan beasiswa dari pemerintah daerah untuk mengatasi kekurangan tenaga spesialis ini. (Adv)





