H. Firman Latif Nilai Musrenbang Belum Efektif, Kawasan Perbatasan Masih Kurang Perhatian

NUNUKAN – Agenda reses Anggota DPRD Nunukan, H. Firman Latif, di wilayah Sei Taiwan, Kecamatan Sebatik Induk mengungkap persoalan infrastruktur yang dinilai belum tersentuh perhatian memadai.

Kawasan strategis perbatasan tersebut selama ini mengandalkan Jalan H. Junudi sebagai jalur utama aktivitas ekonomi masyarakat.

Ruas Jalan H. Junudi RT 01 dan RT 04 kembali menjadi perhatian warga, jalan tersebut kerap diusulkan dalam forum musyawarah perencanaan pembangunan, namun realisasi perbaikan belum terlihat dan saat ini kondisi badan jalan belum optimal dinilai menghambat mobilitas barang dan jasa.

Di sepanjang jalan itu berdiri Toko MBM yang menjadi pusat distribusi kebutuhan pokok bagi pedagang kaki lima,  aktivitas pengambilan barang dagangan berlangsung setiap hari, menjadikan kawasan tersebut sebagai simpul perdagangan penting di Pulau Sebatik.

Selain aktivitas perdagangan, kawasan itu juga menjadi lokasi pembongkaran ikan dan rumput laut hasil tangkapan nelayan, perputaran ekonomi sektor perikanan bertumpu pada akses jalan yang memadai agar distribusi hasil laut berjalan lancar.

Keberadaan dua pos pertahanan negara, yakni Pos Angkatan Darat dan Pos Marinir, menambah nilai strategis wilayah tersebut, di jalur yang sama berdiri pula koperasi desa yang menopang kegiatan ekonomi warga setempat.

Melalui penjaringan aspirasi ini, H. Firman menyampaikan, aspirasi tersebut setiap tahun di sampaikan masyarakat dalam musrenbang, namun usulan tersebut belum terealisasikan.

“Usulan perbaikan Jalan H. Junudi selalu masuk agenda pembahasan, namun sampai sekarang belum terlihat hasilnya, padahal kawasan ini menjadi pusat aktivitas ekonomi dan pertahanan,” kata Firman.

Menurut Firman, kawasan perbatasan memerlukan perhatian pembangunan yang seimbang mengingat posisinya sebagai beranda terdepan negara, infrastruktur jalan yang memadai akan memperkuat aktivitas perdagangan sekaligus mendukung mobilitas aparat pertahanan di wilayah tersebut.

Ia mengatakan, suara masyarakat tidak boleh berhenti hanya pada perencanaan, aspirasi yang telah berulang kali disampaikan warga, lanjutnya, perlu diterjemahkan dalam program pembangunan yang terukur agar kepercayaan publik terhadap proses perencanaan tetap terjaga.

Selain perbaikan jalan, warga juga menyampaikan kebutuhan lampu penerangan jalan, bantuan komben alat panen padi, dukungan sarana nelayan, serta pembenahan jalan tani, Permintaan penerangan jalan muncul karena aktivitas ekonomi berlangsung hingga malam hari, sementara kondisi gelap berpotensi mengganggu keamanan dan kelancaran usaha.

Petani setempat juga mengeluhkan keterbatasan alat panen yang berdampak pada proses pengolahan hasil pertanian, ketersediaan Alsintan dinilai penting guna mempercepat panen serta menjaga kualitas gabah yang dihasilkan.

Sementara itu, nelayan mengharapkan dukungan sarana tangkap dan perbaikan akses jalan tani agar distribusi hasil laut dan pertanian berjalan lancar, sspirasi tersebut mencerminkan kebutuhan mendesak masyarakat perbatasan yang menggantungkan hidup pada sektor perdagangan, pertanian, dan perikanan di wilayah Sebatik Barat. (Adv)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *