Sinergi Pemkab Nunukan dan KRAFTIA dalam Penguatan Proyek Energi Listrik Ramah Lingkungan Berbasis Efisiensi dan Kesiapan Lahan

NUNUKAN – Pemerintah Kabupaten Nunukan kembali melanjutkan pembahasan proyek energi terbarukan bersama KRAFTIA Corporation melalui pertemuan teknis yang digelar pada Kamis (9/04/2026), di Ruang Rapat Forkopimda Lantai 1 Kantor Bupati Nunukan.

Pertemuan ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan pembangkit listrik hibrid yang menggabungkan tenaga surya (PLTS) dan biomassa (PLTBm) di wilayah Nunukan.

KRAFTIA Corporation merupakan perusahaan teknologi asal Kyushu, Jepang, yang berfokus pada pengembangan inovasi ramah lingkungan dengan visi menciptakan lingkungan hidup yang lebih nyaman dan berkelanjutan melalui pemanfaatan energi hijau.

Rapat dipimpin oleh Asisten Administrasi Umum Setkab Nunukan, Sirajuddin, didampingi Asisten Ekonomi dan Pembangunan Juni Mardiansyah serta Kepala Dinas Perhubungan Nunukan H. Abdul Munir dan perwakilan KRAFTIA Corporation bersama jajaran perangkat daerah terkait.

Sirajuddin menyampaikan bahwa pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari diskusi sebelumnya pada 3 Desember 2025.

“Pertemuan ini penting untuk melihat perkembangan proyek sekaligus mencari solusi atas kendala yang dihadapi di lapangan,” ujarnya.

Pembahasan difokuskan pada progres pembangunan PLTS dan PLTBm yang direncanakan berlokasi di Tanjung Harapan, Kecamatan Nunukan Selatan.

Proyek ini merupakan kerja sama antara Pemerintah Jepang dan Pemerintah Indonesia dengan lokus di Kabupaten Nunukan, melibatkan PLN Unit Layanan Nunukan, serta didukung pendanaan dari New Energy and Industrial Technology Development Organization (NEDO).

Dalam paparannya, perwakilan KRAFTIA Corporation, Akbar, menjelaskan bahwa proyek yang diinisiasi sejak tahun 2024 ini mengalami penyesuaian, terutama akibat kenaikan biaya.

“Terjadi perbedaan harga yang cukup signifikan dari perencanaan awal, sementara NEDO telah menetapkan batasan standar biaya yang tidak dapat dilampaui,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, pembengkakan anggaran mencapai sekitar Rp140 miliar yang dipengaruhi oleh kenaikan biaya konstruksi pembangkit biomassa, pekerjaan sipil, serta transportasi bahan baku tandan kosong kelapa sawit.

“Kondisi per Maret 2026 menunjukkan adanya peningkatan biaya yang cukup besar dibandingkan perencanaan awal, sehingga proyek ini sempat berisiko tidak dapat dilanjutkan,” tambahnya.

Meski demikian, sejumlah langkah efisiensi telah dilakukan, antara lain melalui desain ulang pekerjaan sipil dengan melibatkan konsultan, negosiasi langsung dengan produsen boiler, serta koordinasi dengan kementerian terkait untuk memperoleh pembebasan pajak mengingat proyek ini merupakan hibah.

Penyesuaian juga dilakukan pada kapasitas PLTS dari 1,8 MWp menjadi 1,3 MWp, bahkan disiapkan opsi hingga 0,65 MWp guna menekan biaya lebih lanjut.

“Langkah ini kami ambil agar proyek tetap berjalan tanpa mengurangi fungsi utamanya dalam menjaga keandalan listrik di Nunukan,” ujar Akbar.

Sementara itu, perwakilan KRAFTIA Corporation lainnya, Ida Lisa, menegaskan bahwa peran Pemerintah Kabupaten Nunukan dalam proyek ini difokuskan pada penyediaan dan pematangan lahan.

Dari total lahan sekitar 3,5 hektare yang telah disiapkan, pemerintah daerah diminta untuk mematangkan lahan seluas kurang lebih 0,8 hektare di area yang lebih datar.

Langkah ini dinilai penting untuk mendukung efisiensi pembangunan, khususnya dalam menekan biaya pekerjaan sipil serta mempermudah proses konstruksi fasilitas biomassa.

“Kami tetap berkomitmen bahwa meskipun ada penyesuaian kapasitas, tujuan utama proyek ini tidak berubah, yaitu memastikan pasokan listrik tetap stabil, terutama saat terjadi pemadaman,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa proyek ini merupakan bagian dari dukungan Pemerintah Jepang kepada Indonesia, sehingga standar spesifikasi dan keselamatan harus memenuhi ketentuan tinggi.

“Kami ingin memastikan kualitas dan aspek keselamatan benar-benar terjaga,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Sirajuddin menyatakan bahwa Pemerintah Kabupaten Nunukan akan segera melakukan rapat internal untuk menentukan langkah lanjutan, termasuk kesiapan lahan yang diminta.

“Kami akan menindaklanjuti hasil pertemuan ini agar keputusan yang diambil tepat dan mendukung kelancaran proyek,” katanya.

Sebagai tindak lanjut, kedua belah pihak akan kembali menggelar pertemuan dalam waktu dekat guna memastikan keberlanjutan proyek.

Dalam kesempatan yang sama, Akbar juga memaparkan kapasitas terbaru pembangkit, yakni biomassa sekitar 2,5 megawatt dengan kapasitas maksimal hingga 3 megawatt. Sementara PLTS direncanakan sebesar 650 kilowatt peak dengan dukungan baterai sekitar 2,8 megawatt.

Pimpinan ULP PLN Nunukan, Rendra, menyatakan dukungan penuh terhadap proyek tersebut.

“Kami sangat mendukung program energi baru terbarukan ini, dari sisi sistem, kami sudah siap dan tinggal menunggu realisasi proyek,” imbuhnya. (Adv)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *